Mengenal Ortoreksia, Sindrom Gaya Makan Sehat yang Berlebihan

Understanding Orthorexia

Orang dengan ortoreksia akan menimbang dan mengukur isi satu piring makanan yang mereka makan.

Gaya hidup sehat memang tengah populer dalam sepuluh tahun terakhir. Mulai dari mengganti nasi putih menjadi nasi merah, cokelat, atau hitam, minum infuse water atau air putih yang dicampur buah-buahan, vegetarian, vegan, dan lain sebagainya. Industri kuliner dan olahraga pun mulai mendukung gerakan gaya hidup sehat ini.

Terbukti dengan semakin banyaknya sarana atau komunitas olahraga, katering menu makanan sehat, industri camilan sehat dan masih banyak lagi. Namun memulai hidup sehat ternyata tetap memiliki dampak buruknya bagi kesehatan terutama pikiran.

Gangguan ini disebut dengan nama ortoreksia. Ortoreksia adalah kondisi ketika seseorang melakukan fiksasi pada kualitas makanan yang dibandingkan dengan kuantitas makanan. Menurut dr Yon Park, MD, seseorang dengan ortoreksia memiliki banyak aturan soal makanan yang terbilang berlebihan. Seperti menimbang dan mengukur porsi makan, meneliti jumlah kalori, serat, lemak yang ada di dalam makanan tersebut, hingga merencanakan menu dengan teliti.

Meski terkesan mengerikan, namun hingga saat ini ortoreksia tidak termasuk dalam daftar gangguan makan atau penyakit mental menurut para psikolog.

Psikolog Kasey Goodpaster, PhD dari National Eating Disorders Association mengatakan bahwa ia dan timnya terus meneliti dan mengembangkan teori tentang fenomena ini dari tahun ke tahun. “Obsesi terhadap makanan bersih sebetulnya diawali dengan budaya diet yang selalu menekan dan dibungkus dengan hasrat agar lebih sehat,” ujarnya.

Ortoreksia akan berbahaya bagi seseorang karena tubuhnya bisa mengalami malnutrisi hingga gangguan pikiran.

“Orang-orang dengan ortoreksia biasanya mengurangi banyak makanan yang biasa menjadi asupan harian hingga ia merasa kelaparan. Namun saat makan, ia akan merasa cemas dan menyesal. Fenomena ini juga menjadi salah satu pemicu munculnya gangguan kesehatan seperti anoreksia,” jelas Goodpaster lebih lanjut.

Pada dasarnya semua makanan tidak akan ada masalah jika dikonsumsi asalkan jangan berlebihan. Fakta yang menyebutkan bahwa MSG dapat memengaruhi daya ingat dan daya pikir seseorang pun belum terbukti benar.

Gula dapat menyebabkan seseorang mengalami diabetes dan kelebihan berat badan juga tidak sepenuhnya benar, asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan. Seimbangkan asupan yang diserap oleh tubuh dengan olahraga yang dapat membakar sisa-sisa asupan sehingga tidak mengendap lalu menumpuk menjadi lemak jahat.

Source >